Kesenian Ndayakan

Posted: 01/12/2011 in Seni Tradisional
Tag:

 

Kesenian Rakyat Ndayakan/Topeng Ireng

Kesenian rakyat ini berasal dari sebuah Proses Kreatif  seorang Lurah di Desa Tuksongo yang bernama Lurah Tampir sebutannya. Dahulu pada masa pemerintahan orde baru dia ikut program transmigrasi ke Kalimantan namun karena situasi disana dirasa kurang menguntungkan maka dia dan keluarganya memeilih pulang ke kampong halaman kembali.

Bermula dari kegelisahannya dalam melihat kesenian rakyat Subkhanul Muslimin/orang jawa sering mengatakan Kesenian Gandul muslimin. Dia merasakan kesenian ini hanya duduk dan bernyanyi tanpa melakukan sebuah gerakan yang dapat dirasakan lebih menarik dilihat orang.Dia ingin memadukan nyanyian di kesenian subkhanul muslimin dengan gerakan-gerakan silat yang dinamis dan rancak.lalu dia dibantu oleh tokoh desa yang lain untuk membuat gerakan dan musik yang mereka buat dari bunyi-bunyian alat yang ada pada saat itu.di bantu  pak amat Rejo dan teman-temannya Lurah tampir mulai mewujudkan einginannya dengan alat doran/pacul mereka menggunakannya untuk music,lalu dipilih klenthing yang ditutup kulit ujungnya untuk perkusi dan Jidor untuk bassnya.

Sebagai seorang yang menganut ajaran agama islam mereka juga mempergunakan ilmu agamanya untuk dapat diimplementasikan dalam wujud kesenian rakyat.Mereka menggunakan binatang-binatang yang memiliki makna sesuai dengan ajaran islam yang mereka anut.Mereka memasukkan binatang seperti Gajah,Warak,Macan,Wedus(kambing), Kerbau, Sapi, Kuda, yang dipergunakan untuk menambah maraknya bentuk kesenian mereka dan ditambah pula dengan penari Rodat yang diberi kostum dari daun kelapa yang disebut Janur lalu diikatkan dan dirangkai untuk dipergunakan untuk penutup aurat dan penutup dada,lalu mereka juga menggunakan peci untuk topinya yang ditempeli dengan bulu-bulu bebek /mentok yang berwarna-warni lalu di beri sebuah untaian gabus telo yang diberi pewarna sehingga semakin marak bentuk kesenian ini.Pada saat itu kesenian in sangat populer di sekitar kecamatan Borobudur.

Kata Ndayakan berasal dari kata Ndayak ditambah akhiran –an, Ndayak berarti banyak dan akhiran -an memiliki makna menyerupai jadi Ndayakan mempunyai makna menyerupai orang banyak.Dan memang kesenian ini dalam pertunjukkannya selalu diikuti oleh orang banyak dan sangat meriah.

Dalam perkembangannya ketika perguruan tinggi seni memiliki Program KKN( Kuliah Kerja Nyata) mulai dimasukkan ke desa-desa untuk memberikan pengalaman seninya atau bertukar pengalaman dengan masyarakat sekitar membuat nama kesenian ini menjadi hal yang menarik untuk didiskusikan. Akhirnya muncul nama Topeng Hitam atau Topeng Ireng yang diluncurkan oleh Sekolah Tinggi Seni Surakarta dalam setiap kesempatan dan mereka memberikan usulan itu kepada pemda magelang sehingga ada nama baru yang sekarang dimiliki oleh kesenian Ndayakan,Topeng Ireng. Hal ini masih menjadi polemic local di magelang,ada yang menyebutkan ndayakan ada juga yang menyebut topeng ireng.walaupun dalam pertunjukannya bentuknya sama, hanya nama yang berbeda.

Komentar
  1. Pitut mengatakan:

    Informasi seperti ini yang saya harapkan bravo pak lukman.. salam dari Indonesia…

    oh ya tolong edit informasi tentang anda di halaman TEntang Borobudur Art. (about)

    trims SALAM

    Suka

  2. R mengatakan:

    Mas bosss,,, kok blm update berita lgi,,,, bwat nambah wawasan
    Update lgi y boss

    Suka

  3. fafa mengatakan:

    mantab bos
    sesama orang magelang saya turut bangga dngan kesenian ndayakan

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s