Kesenian Jathilan

Posted: 01/14/2011 in Seni Tradisional
Tag:

Kesenian Jatilan

Kesenian ini merupakan salah satu jenis kesenian rakyat yang ada dan berkembang di daerah pegunungan menoreh, tepatnya di sebelah selatan candi Borobudur. Kesenian ini memiliki latar belakang yang berhubungan dengan sejarah perang gerilya Pangeran Diponegoro. Ada beberapa sumber yang menyatakan bahwa kesenian jathilan ini berasal dari jawa timur,tepatnya kesenian Reog Ponorogo.dikatakan sebagai pemain Jothil.

Namun di Borobudur,kesenian jathilan memiliki sejarah yang berbeda.Mereka mendapatkan inspirasi dari melihat pasukan pangeran diponegoro yang sedang melakukan perang gerilya di sepanjang pegunungan Menoreh. Seringnya masyarakat Borobudur di pegunungan  waktu itu melihat dan menyaksikan pasukan gerilya Pangeran.Diponegoro membuat mereka memiliki kedekatan emosional,dengan peristiwa sejarah tersebut. Lalu mereka mengekspresikan ra

ngsang visual mereka dalam bentuk kesenian yang diiringi dengan musik gamelan yang diwujudkan dengan penari yang menaiki kuda yang terbuat dari kepang/anyaman bambu. Maka kesenian jathilan ini kadang juga dinamakan dengan kesenian kuda Kepang/kuda Lumping(bahasa jawa).

Kesenian ini juga menggunakan media trance untuk berhubungan dengan kekuatan gaib yang ada dan mereka yakini menjadi sesepuh desa mereka. Ada beberapa desa masih memiliki keyakinan akan hal tersebut. Salah satu contoh yang sampai saat ini masih ereka lakukan adalah, Setiap mereka melakukan pementasan mereka harus membawa air dari mata air dimana terdapat batu bekas telapak kuda, yang dipercaya sebagai bekas telapak kaki kuda Pangeran Diponegoro. Tradisi ini masih mereka bawa hingga sekarang dan hal ini sudah menjadi tradisi mereka dalam menggelar kesenian jathilan ini disetiap pertunjukan.

Trance dalam pertunjukan jathilan juga kadang dipergunakan untuk menolak bala/tolak bala atau menyembuhkan penyakit bagi orang yang mempercayainya. Kekuatan alam ini sampai sekarang kadang masih mereka lakukan dalam setiap hajatan. Masyarakat mereka yang memiliki kaul/ kehendak untuk menggunakan kesenian ini untuk merayakan sebuah perayaan, baik khitanan, perkawinan bahkan nadar dari seseorang yang memang menghendakinya.

Setiap kelompok kesenian jathilan selalu memiliki seorang dukun yang dianggap sebagai sesepuh di kelompok tersebut yang menjadi Penetralisasi Trance. Sang dukun ini menjadi sebuah mediator yang menjembatani antara manusia dan roh kekuatan magis tersebut.

Selain Penari Prajurit, biasanya dalam pertunjukannya mereka juga menggunakan beberapa topeng Buto yang menjadi pelengkap dari keseluruhan pertunjukan kesenian jathilan tersebut yang disebut Grasak. Bagian pertunjukan grasak ini biasanya merupakan babak terakhir dari keseluruhan rangkaian pertunjukan kesenian jathilan.


Komentar
  1. M. Parwoko mengatakan:

    Mungkin ada benarnya jathilan berasal dr jawa timur krn pada thn 1828 di daerah kedu dan sekitarnya kedatangan sekitar 15.000 org pasukan di bawah komando alibasyah tumenggung Sosrodilogo untuk bergabung dengan pasukan induk pangeran Diponegoro. Pasukan itu berasal dari daerah Karesidenan Madiun (termasuk ponorogo) dan berpangkalan di Rajegwesi (Bojonegoro). Setelah perang berakhir dgn ditangkapnya pangeran Diponegoro di Magelang thn 1830, banyak dari sisa pasukan menetap di situ.
    Apalagi jathilan/ebek/kuda kepang hanya ditemukan di daerah yg dahulu merupakan medan perang diponegoro seperti : Bantul, Kulon progo, Purworejo, Kebumen, Banyumas, Magelang, Wonosobo dan Temanggung saja.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s