Kesenian Kubrosiswo

Posted: 01/15/2011 in Seni Tradisional

kubrosiswo

kubrosiswo

Kesenian Kubrosiswo

Merupakan sebuah kesenian yang bermula dari penyebaran agama islam yang tumbuh berkembang subur di wilayah Borobudur dan sekitarnya. Dahulunya kesenian ini banyak didominasi oleh kaum muda yang berawal sekitar tahun 1940 ketika penjajah Belanda mau menjajah kembali bangsa Indonesia. Mereka menggunakan kostum tentara Belanda untuk menghindari kecurigaan mereka selama kesenian ini berkembang.

Pergelaran Kesenian Kubrosiswo ini memiliki kemiripan dengan kesenian Ndayakan. Perbedaannya hanya di bentuk tempo lagunya yang lebih semangat dan kerapian kostum dan gerakan yang membedakannya. Kesenian ini juga menggunakan urutan yang hampir mirip, dimulai dengan Rodatan/Pembukaan yang memunculkan para penari yang berbaris dengan irama yang dinamis dan sangat semangat. Lalu selanjutnya dimunculkan penari yang melakukan gerakan-gerakan lucu dengan nyanyian yang berbeda-beda,dilanjutkan dengan adegan hewan-hewanan yang memunculkan berbagai macam bentuk hewan yang menggambarkan kekuatannya masing-masing dari harimau, gajah, kerbau, badak dan kerbau, Sapi serta kuda. Selanjutnya pergelaran ditutup dengan rodat penutup yang menampilkam penari-penari yang menggambarkan prajurit yang semangat dan gagah perkasa dengan gerakan-gerakan berbaris yanguntik ibarat sebuah pasukan.

Iringan yang dipergunakan dalam pertunjukan kesenian Kubrosiswo ini terdiri dari alat-alat music sederhana yang dibuat dari bahan-bahan sekitar daerah mereka. Instrumen yang dipergunakan adalah: 1. Dodog, sejenis kendang yang memiliki satu lobang disisinya, dan sisi lain ditutup dengan kulit kambing yang sudah dikeringkan dan dimasak. Fungsinya adalah sebagai penuntun irama dan pemimpin pada musik kesenian ini. 2. Bende, sebanyak 3 buah yang terbuat dari besi yang dibentuk mirip dengan boning dalam gamelan jawa, masing- masing memiliki bentuk yang berurutan dari kecil, sedang dan besar. Intrumen ini memiliki fungsi sebagai pemanis atau rhytme dalam keseluruhan bentuk musiknya. 3. Jidor, merupakan Instrumen yang memiliki dua sisi lingkaran yang masing-masing dilapisi dengan kulit kerbau yang sudah dikeringkan dan memiliki fungsi sebagai bass yang berfungsi juga sebagai ketukan akhir di keseluruhan bentuk musik kesenian ini.

Kesenian kubrosiswo ini sekarang sudah semakin langka keberadaannya dibandingkan kesenian jathilan dan kesenian Ndayakan. Perkembangannya selama ini masih banyak di dominasi oleh masyarakat pegunungan Menoreh yang memiliki kekuatan kaki yang sangat kuat dibandingkan masyarakat di dataran rendah. Seiring dengan perkembangan jaman kesenian ini dikhawatirkan akan semakin banyak menemui kendala dan regenerasi pendukungnya. Masalah Regenerasi ini juga menghinggapi semua kesenian rakyat yang ada dan berkembang di wilayah pedesaan dan pegunungan di sekitar Borobudur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s